Kemampuan Intelek tinggi
sebagai Sumber Kesulitan Anak dalam Belajar
Disusun oleh :
Dwi Istanto
Pendidikan Matematika Subsidi
09301241030
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2011
Pendahuluan
Pendidikan adalah sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang begitu
berharga, sehingga untuk dapat mengenyam pendidikan yang tinggi dibutuhkan
biaya yang tinggi pula. Bangsa yang maju pasti akan memajukan pendidikanya,
karena bangsa itu sadar dengan pendidikan yang baik akan tercipta suatu Negara
yang baik pula.
Menempuh pendidikan atau melakukan pendidikan sering kita artikan dengan
proses belajar. Kita mulai proses belajar sejak kita masih kecil, sejak kita
masih berumuran di bawah lima tahun. Contohnya saja, ketika kita masih kecil
kita belajar untuk berbicara, belajar untuk bejalan, dan masih banyak yang
lainya.
Kita melakukan
pendidikan atau melakukan proses belajar tentu mempunyai tujuan tujuan yang
hendak dicapai. Kita belajar tentu ada tujuanya. Saat kita di sekolah, tentu
tujuan kita belajar adalah agar memperoleh nilai yang bagus dan pada akhirnya
dapat naik kelas ataupun dapat lulus dari sekolahnya.
Kita belajar di sekolah selain untuk mendapatkan nilai yang bagus juga
agar kelak di kemudian hari kita dapat memperoleh pekerjaan yang layak.
Pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan kemampuan kita. Supaya semua itu
terwujud, tentu dalam proses belajarnya
harus baik. Siswa harus bias melakukan kegiatan belajar yang baik
sehingga mereka dapat mencerna ilmu dengan baik dan pada akhirnya dapat
menerapkan di dalam kehidupan sehari hari.
Untuk mewujudkan kegiatan belajar
yang baik di Negara kita ini masih terdapat banyak masalah yang harus
dibenahi dan diselesaikan oleh pemerintah. Masalah masalah yang menghambat
suksesnya pembelajaran dapat datang dari beberapa factor. Factor factor itu
adalah dari tenaga pendidik, birokrasi pendidikan, dan tentunya dari peserta
didik itu sendiri.
Masalah pendidikan di Indonesia yang
berkaitan dengan tenaga pendidik adalah masih banyak guru guru di Indonesia
yang belum professional. Masih banyak guru guru yang belum mmperoleh gelar
sarjana, sehingga penguasaan materinya pun belum maksimal dan pada akhirnya
tidak dapat mmenyampaikan materi dengan baik kepada siswa. Ditambah lagi, masih
banyak guru guru yang mengajar dengan cara seenaknya saja. Mereka tidak
mempedulikan murid muridnya, apakah dia paham atau tidak. Sungguh
memprihatinkan keadaan guru di Indonesia saat ini.
Masalah kedua yang dialami bangsa di
Indonesia saat ini adalah birokrasi pendiikan. Anggaran yang dialokasikan ke
pendidikan masih sedikit, apalagi jika masih harus dipangkas oleh oknum yang
tidak bertanggung jawab. Akibatnya, berimbas pada siswa. Siswa tidak dapat
menikmati infrastruktur dan fasilitas fasilitas yang mereka butuhkan dengan
alasan dana yang kurang.
Masalah selanjutnya yang tidak kalah
penting adalah dari peserta pendidik itu sendiri. Banyak sekali factor dari
peserta didik itu sendiri yang menghambat mereka dalam belajar. Membuat mereka
kesulitan dalam belajar. Diantaranya adalah motivasi dan kemampuan inteligensi.
Masalah intelegensi ini cukup membuat anak kesulitan dalam belajar. Tidak hanya
untuk anak yang berkemampuan intelek rendah tetapi juga menjadi masalah anak
yang mempunyai kemampuan intelek tinggi, maka perlu diadakan metode yang tepat
untuk mengatasinya.
Guru guru tentunya harus mempunyai
siasat siasat untuk menanggulangi anak yang mengalami kesulitan belajar karena
kemampuan inteligensi. Disinilah peran seorang tenaga pendidik sangat penting
dan sangat dibutuhkan.
Pembahasan
A. Pengertian inteligensi, belajar, dan
kesulitan belajar
1.
Inteligensi
Intelegensi berasal dari bahasa Inggris “Intelligence” yang juga bersalal dari bahasa Latin yaitu “Intellectus
dan Intelligentia”.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia yang
dimaksud dengan intligensi adalah daya reaksi atau penyesuaian yg cepat
dan tepat, baik secara fisik maupun mental, thd pengalaman baru, membuat
pengalaman dan pengetahuan yg telah dimiliki siap untuk dipakai apabila
dihadapkan pd fakta atau kondisi baru; kecerdasan
J. P. Guilford menjelaskan bahwa tes inteligensi hanya dirancang
untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk
memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang
diberikan. Sedangkan kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat
divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban
berdasarkan informasi yang diberikan. Lebih jauh, Guilford menyatakan bahwa
intelegensi merupakan perpaduan dari banyak faktor khusus.
K.
Buhler mengatakan bahwa intelegensi adalah perbuatan yang disertai
dengan pemahaman atau pengertian.
Tingkat inteligensi seeorang dapat berasal
dari bawaan atau pun tidak. Inteligensi seseorang biasanya diukur dalam IQ.
Menurut pengertian diatas maka dapat
disimpulkan bahwa inteligensi adalah kemampuan atau daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan menggunakan alat-alat berpikir
menurut tujuannya.
2.
Belajar
Dalam kamus
besar bahasa Indonesia yang dimaksud dengan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih,
berubah tingkah laku atau tanggapan yg disebabkan oleh pengalaman.
Belajar merupakan kegiatan mental yang tidak dapat
disaksikan dari luar (winkel, 1991).
Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa
belajar adalah kegiatan mencari dan memperoleh ilmu. Dari yang tidak yahu
menjadi tahu.
3.
Kesulitan belajar
Kesulitan
belajaradalah keadaan dimana seseorang tidak bias atau kurang memahami tntang
pelajaran yang sedang mereka pelajari. Keadaan ini membuat para siswa tidak
tahu cara belajar yang baik dan pada akhirnya mereka tidak tahu isi pelajaran
atau materi yang diajarkan seorang guru. Hal ini harus segera mendapat
perlakuan supaya tidak terjadi dampak yang buruk.
B. Kesulitan belajar anak karena kemampuan intelek yang terlalu tinggi
1.
Pengertian
Anak yang
mempunyai kemampuan intelek tinggi adalah anak yang mempunyai tingkat kecerasan
di atas rata rata. Anak yang mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih disbanding
teman teman sebaya yang lain.
Masalah yang
dihadapi tidak melulu menjadi masalah anak anak yang mempunyai kemampuan
intelek rendah, akan tetapi juga menjadi masalah bagi anak yang mempunyai
kemampuan intelek yang tinggi. Mereka yang mempunyai kemampuan intelek tinggi
juga mempunyai masalah yang tak kalah rumitnya, sehingga perlu penanganan kusus
terhadap mereka.
Sebagai seorang
pendidik, kita juga harus memperhatikan mereka yang mempunyai kecerdasan diatas
rata rata. Anak yang memiliki kecerdasan tinggi cenderung dapat dilihat dari
tes bakat yang pernah dilakukan si anak. Seorang anak yang memiliki kecerdasan
diatas 130 biasa disebut gifted.
Terman (dalam
sugihartono,2007) melakukan penelitian bahwa anak yang berkemampuan rata rata
tinggi itu kebanyakan berasal dari keluarga dengan kelas social ekonomi yang
tinggi. Terman juga menemukan bahwa anak yang memilik kemampuan intelek yang
tinggi akan sukses dalam kehidupan selanjutnya. Sebagian dari mereka bahkan
sebagian besar dari mereka lebih sukses jika dibandingkan teman temanya yang
hanya memiliki kemampuan rata rata atau biasa saja.
Di sisi lain anak
anak yang memiliki kemampuan intelek yang tinggi atau gifted ini, ada yang terlibat dalam perkara criminal. Dengan kata
lain beberapa anak dari kelompok ini menjadi anak yang agak nakal., dikarenakan
secara emosional mereka belum matang. Namun demikian, secara keseluruhan anak
yang memiliki kemampuan intelek yang tinggi tadi terbukti memberikan kontribusi
dalam hal intelektual.
2.
Ciri ciri anak yang memiliki kemampuan intelek yang
tinggi
Banyak sekali anak
anak di dunia ini, anak anak dengan keberagaman dan keunikan mereka masing
masing. Begitu juga dengan anak yang memiliki kemampuan intelek yang tinggi,
atau kalau menurut terman biasa disebut anak
gifted. Anak anak gifted ini tentu juga memilki keunikan
keunikan sendiri sehingga kelihatan berbeda dengan anak yang lain. Dengan
keunikan keunikan anak tersebut, maka kita dapat mengetahui ciri ciri anak yang
memliki kemampuan intelek tinggi ini.
Ciri ciri yang
paling jelas dan paling berdasarkan data., yatu dengan tes potesnsi atau tes
bakat. Anak yang mempunyai hasil tes potensi di atas 130 maka anak itu
tergolong anak yang memiliki kemapuan intelegensi yang tinggi atau biasa
disebut dengan sebutan anak gifted.(utami
munandar,1982)
Selain ciri ciri
diatas tentu masih ada ciri ciri lain. Menurut Renzulli (dalam
sugihartono,2007) anak gifted atau
anak yang memiliki kemampuan intelek tinggi mempunyai tiga cirri pokok yaitu :
1) kemampuan umum diatas rata rata, 2)
kreativitas diatas rata rata, 3)komitmen tugas yang tinggi.
Sedangkan ciri
ciri yang lain adalah anak yang akan menjadi pandai sekali dapat dikenalidari
cirri khasnya, yakni nampa lebih tua daripada umurnya, Nampak lebih tua daripada
teman teman sebayanya, mereka Nampak lebih tua karena minat mereka diarahkan ke
hal hal yang biasanya diperhatian oleh anak anak yang lebih tua,perbendaharaan
katanya luas sekali, serta permainanan yang ia senangi adalah permainan anak
anak yang lebih tua darinya, dan anak yang berkemampuan intelek tinggi ini
tidak mau menerima kekalahan.(singgih, 2001)
Demikian tadi ciri
ciri anak yang memiliki kemampuan intelek tinggi. Sudah cukup banyak cirri ciri
yang kami paparkan, semoga anda dapat mengambil manfaat dari penjelasan yang
saya paparkan diatas.
3.
Masalah yang
dihadapi anak berkemampuan intelek tinggi dalam belajar
Anak yang
mempunyai kemampuan intelek tinggi tidak jaminan mereka tidak mendapatkan
masalah dalam hal belajar atau dalam proses pembelajaran. Sama seperti anak
yang memiliki kemampuan rendah, anak yang berkemampuan intelek tinggi ini juga
mempunyai masalah masalah dalam hal pembelajaran yang harus ditangani juga.
Jika tidak maka akan menjadi masalah yang serius terhadap perkembangan anak
tersebut.
Anak anak gifted atau anak anak yang memiliki
kemampuan intelek tinggi ini memiliki kemungkinan untuk mengalami kesulitan
serius di sekolah. Mereka mungkin sangat bosan dengan teman sebayanya dan
pengetahuanya mungkin melebihi apa yang disampaikan guru mereka. Guru mungkin
melihatnya tidak sopan atau cari cari perhatian, padahal sebenarnya tidak.
Mungkin juga anak
anak yang memiliki kemampua intelek tinggi ini, akhirnya menjadi penganggu dii
sekolah. Anak tersebut menganggap sekolah terlalu mudah dan guru menerangkan
secara lambat. Ia sudah memahami apa yang disampaikan guru sedangkan siswa yang
lain belum. Demikian pula ia cepat dalam mengerjakan soal dan sisawaktunya
hanya digunakan untuk mondar mandir di kelas atau malah menggunakan waktunya
untuk mengganggu teman lain yang belum selesai mengerjakansoalnya.
Adakalanya anak
yang berkemampuan intelek tinggi ini juga suka membolos dan mennjadi anak yang
malas. Meeka membolos karena mereka berfikir tidak ada gunanya mereka ke
sekolah tiapa hari. Merka beranggapan pelajaran di sekolah tidak maju maju.
Ia menjadi malas
karna dalam waktu yang singkat ia dapat mengerjakan tugas tugasnya. Sikap malas
ini sering dibawanya terus, karna menghafal sering tidak memerlukan waktu yang
lama. Kebiasaan anak menyelesaikan sesuatu menyeebabkan anak menjadi kurang
sabar dan tidak tekun dalam menyelesaikan tugas tugas kelak di kemudian hari.
Selain masalah
diatas ada masalah lain yang dialami anak gifted
ini, yaitu mereka mengira belajar adalah masalah yang mudah sehingga tidak
mempersiapkan segala sesuatunya dalam belajar sehingga dapat menjadikan mereka
frustasi akibat tidak kemampuan mereka dalam memahami pelajaran. Oleh karena
frustasi tadi, ia juga sering menjadi agresif, tidak perhatian dan kadang kadag
meninggakan tugas.
Sekian masalah
masalah yang dapat saya ungkapkan mengenai anak anak yang berkemampuan intelek
tinggi.
4.
Solusi dari masalah yang dihadapi anak berkemampuan
intelek tinggi
Setiap masalah
tentu ada solusinya. Tidak terkecuali masalah anak anak yang memiliki kemampuan
intelek tinggi, tentu ada beberapa pilihan solusi yang dapat diterapkan dalam
proses pembelajaran bagi anak yang memiliki kemampuan intelek tinggi
Ada pendapat yang
menyatakan bahwa anak yang memiliki kemampuan intelek tinggi ini mengikuti
program ‘lompat kelas’. Program yang biasa kita sebut dengan akselerasi. Akan
tetapi program in juga ada kekuranganya, yaitu tidak sejajarnya kemampuan
intelek dengan perkembangan social.
Ada solusi lain
untuk mengatasi masalah anak yang memiliki kemampuan intelek tinggi ini, yaitu diadakanya kelas
kusus. Kelas yang diperuntukkan untuk anak yang memliki kemampuan intelek
tinggi. Memang di Indonesia belum ada kelas yang seperti ini, kelas yang isinya
untuk anak berkemampuan intelek tinggi atau kelas untuk anak anak yang kemampuan inteleknya lebih dari
teman sebayanya.
Di Indonesia yang
sudah dimulai penanggulanya adalah kurang lebih dicerminkan dalam sekolah
pembangunan. Bila pelaksanaanya sesuai dengan tujuan, maka persoalan anak ini
dapat diselesaikan dengan membiarkan anak menjalani proses belajar dengan
kecepatan sendiri. Selesai sesuatu dikuasai mereka lanjutkan pelajaran
berikutnya dan seterusnya begitu. Akan tetapi bila pelaksanaaya tidak sesuai
dengan tujuanya maka mungkin anak akan kehilangan smangatnya karena seolah olah
pembelajaran dipaksakan mengikuti tempo yang tidak sesuai dengan kemampuan
optimal si anak.
Mengingat sulit
untuk membentuk kelas kusus, maka dapat dibentuk kelas biasa dengan aktivitas
diperluas untk menampung waktu luang anak anak tersebut. Apabila memang program
ini memanag sulit dijalankan juga maka sebaiknya orang tua turun tangan. Orang
tua mencari bidang tertentu agar si anak itu tidak menganggur jika pelajaran
sudah selesai dan yang terpenting kegiatan itu harus sesuai dengan kemampuan
dan kemauan anak, supaya selain mengisi
waktu luang anak itu juga sekalian menyalurkan hobi mereka.
C. Peran pendidik terhadap anak yang
berkemampuan intelek tinggi
Menurut la sulo yang dimaksud dengan pendidik adalah
orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran
peserta didik (dalam siswoyo, 2007).
Menurut
langeveld pendidik adalah orang yang dengan sengaja membantu orang lain
dalam mencapai kedewasaan (dalam siswoyo, 2007).
Dari uraian di atas maka dapat disumpulkan bahwa
pendidik adalah seseorang yang dengan tulus mentransfer ilmunya kepada peserta
didik.
Dalam proses pembelajaran seorang pendidik dalam hal
ini guru harus memperhatikan keberagaman siswa yang diajar dan di didiknya.
Mulai dari kondisi ekonominya, serta yang lainya. Begitu juga dengan
keberagaman kemampuan intelek yang dimiliki siswa.
Tentu dalam sekolah kususnya kelas tidak mungkin
muridnya pandai atau bodoh semua. Pasti dalam suatu kelas akan berbaur murid
murid yang pandai dan yang bodoh. Sebagai seorang guru tentu harus
memperhatikan hal semacam itu karena akan berdampak pada metode yang akan
digunakan dalam pembelajaran.
Guru seharusnya tidak hanya memperhatikan anak yang
memiliki kemampuan kurang saja tetapi juga harus memperhatikan anak yang
memiliki kemampuan intelek tinggi supaya mereka tetap termotivasi berada di
kelas. Contohnya adalah ketika sudah memberikan tugas dan anak yang memiliki
kemampuan intelek tinggi tadi sudah selesai maka jangan biarkan anak itu
menjadi diam saja, karena akan membuat anak itu malah dapat menganggu temanya
yang belum selesai. Sebaiknya guru memberikan soal soal yang lebih menantang
lagi kepada anak anak yang sudah selesai tadi supaya anak itu tidak menganggur
dan mempunyai pekerjaan ketika pelajaran sedang berlangsung. Sehingga anak itu
dapat focus terhadap pekerjaanya dan tidak menggangu anak yang lain.
Jadi sebagai seorang guru, kita harus memperhatikan
keberagaman siswa, supaya kita dapat menerapkan metode pembelajaran apa yang
dapat dan tepat kita gunakan di dalam kelas.
Kesimpulan
Anak anak tentu beraneka ragam. Beraneka ragam dalam
banyak hal, baik secara fisik atau tidak. Salah satu yang pasti beraneka ragam
adalah kemampuan intelek anak. Setiap anak pasti mempunyai kemampuan intelek yang
berbeda beda. Ada yang mempunyai kemampuan intelek rendah, ada juga yang
berkemampuan intelek tinggi.
Baik anak yang berkemampuan intelek rendah maupun yang
berintelek tinggi sama sama mempunyai masalah dalam hal belajar. Mereka sama
sama mempunyai kesulitan dalam hal belajar meskipun masalah dan kesulitan yang
mereka alami berbeda
Anak yang memiliki kemampuan intelek tinggi cenderung
sukses dalam pembelajaran, tetapi pasti meliliki masalah yang harus
ditangani. Supaya anak tersebut tetap
termotivasi dalam belajar.
Guru sebagai tenaga pendidik juga harus memperhatikan
akan keberagaman itu. Hal ini dilakukan agar guru dapat menerapkan metode yang
tepat digunakan dalam proses pembelajaran di kelas.
Daftar pustaka
Siswoyo, Dwi . (2008). Ilmu
pendidikan. Yogyakarta : UNY press
Singgih.(2001). Psikologi
Anak Bermasalah. Jakarta: Gunung Mulia
Sugihartono.(2007). Psikologi
Pendidikan. Yogyakarta : UNY press
Munandar, Utami. (1985). Mengembangkan
Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta: Gramedia
Winkel.(1991). Psikologi
Pengajaran. Jakarta : Grasindo
No comments:
Post a Comment